Pada bulan Rabiul Awal 1448 H ini, seperti biasa, masyarakat Muslim di beberapa tempat melaksanakan peringatan kelahiran sosok panutan, role model umat, Nabi Muhammad SAW. Sebetulnya, perayaan Maulid sudah lama digelar oleh para pendahulu kita sebagai bentuk pencurahan ekspresi cinta, sebagaimana seseorang merayakan ulang tahun gurunya, kekasihnya, atau bahkan orang tuanya. Tiap lantunan selawat bersahutan dari desa ke desa, dari musala ke musala. Anak-anak kecil berlarian dan berebut makanan atau uang saku yang dibagikan oleh para muhsinin (dermawan). Begitu pula pembacaan sirah nabawiyah, kitab Syamail, dan tablig akbar turut mewarnai gemerlapnya perayaan Maulid ini.
Namun, karena banyaknya perayaan dan padatnya jadwal yang berdekatan dengan peringatan HUT RI 17 Agustus, perayaan pun kerap terkesan bercampur baur. Orkes dangdut dan konvoi sound horeg yang dikawal penari-penari serta pesta minuman keras ditampilkan secara terang-terangan. Hal ini membuat anak-anak kecil, yang pada zaman dahulu disibukkan dengan selawatan, kini justru kecolongan dan menonton perayaan-perayaan yang tidak senonoh. Sungguh miris menyaksikan peristiwa semacam ini.
Pada zaman ini, kemaksiatan ditampakkan secara nyata, gamblang, dan eksplisit, tanpa secuil pun rasa tabu. Masyarakat, baik pelaku maupun yang "kecolongan", tampaknya lupa akan sabda Nabi Muhammad SAW:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ
"Setiap umatku akan dimaafkan (dosanya), kecuali orang-orang yang terang-terangan (dalam berbuat maksiat)." (HR. Bukhari)
Masalahnya bukan sekadar keterang-terangan, melainkan telah menjadi ajang perlombaan, siapa yang paling tinggi "skor" kemaksiatannya, dialah yang merasa bangga. Ia memamerkan kemaksiatan itu tanpa rasa malu sedikit pun. Apa yang akan terjadi jika anak-anak kecil yang polos, yang seharusnya kita biasakan mengaji, berselawat, dan mengenal sosok Nabinya, justru disuguhi tontonan semacam itu? Seolah-olah kebiasaan baik dalam perayaan zaman dahulu menjadi *blind spot* di zaman sekarang. Orang-orang lebih senang berfoya-foya pada hal-hal yang tidak bermakna. Apakah ini terjadi karena krisis dopamin masyarakat sehingga mereka membutuhkan hiburan terus-menerus? Jika hiburan itu baik, tentu tidak masalah, tetapi jika hiburan tersebut sudah merusak akal anak-anak, apakah hal itu bisa dibiarkan?
Ditambah lagi, sound horeg dan sejenisnya kini telah merambah ke area permukiman warga. Bukan hanya penyelenggaraannya yang tidak manusiawi, tetapi juga mengganggu waktu istirahat dan ketenteraman warga, serta mengganggu tumbuh kembang anak yang seharusnya dipersiapkan menjadi generasi emas berikutnya. Apakah pengusaha sound horeg resah? Tentu tidak, mereka meraup keuntungan ratusan juta rupiah. Apakah mereka menyangkal dampaknya? Tentu saja. Untuk apa mengurusi anak orang lain atau orang yang merasa terganggu, toh mereka sudah untung? Lebih baik terus berfoya-foya. Fatwa MUI? Tak digubris. Begitu kira-kira gambarannya.
Ironisnya, seperti ritual pesugihan, mereka seolah menjadikan orang-orang yang menderita akibat kegiatan tersebut sebagai tumbal, tumbal pesugihan. Anak-anak kecil yang polos dikorbankan, akal mereka ditumbalkan demi joget massal, rasa malu mereka ditumbalkan demi "diskotek berjalan" ini. Belum lagi perayaan puncak Maulid di salah satu daerah yang mempertontonkan ritual bernuansa satanik, lengkap dengan altar, pengorbanan kambing, kostum setan yang sangat terang-terangan, dan simbol-simbol satanik yang tergambar jelas. Sayangnya, banyak masyarakat yang menyangkal fenomena ini. Sekalipun bukan ritual dalam arti literal, acara yang berada dalam rangkaian Maulid tersebut tetap mengiklankan, mengejawantahkan, dan mempertontonkan praktik yang menentang tauhid. "Ini kan cuma main-main," katanya, padahal yang dimain-mainkan adalah agama. Bagaimana jika tontonan semacam itu justru memancing rasa penasaran banyak orang, hingga berujung pada tergadainya iman mereka?
Lantas, apa solusi untuk peristiwa seperti ini? Barangkali yang bisa kita lakukan adalah memperbanyak doa kepada Allah SWT, agar kita tidak termasuk dalam barisan parade Dajjal dan pengikutnya, serta agar Allah SWT segera memberikan teguran dan hidayah bagi mereka yang lalai. Namun, doa saja tentu belum cukup, ia perlu diiringi ikhtiar: menghidupkan kembali majelis-majelis selawat, mendekatkan anak-anak pada sirah Nabi sejak dini, dan berani menyuarakan kebenaran di tengah masyarakat. Semoga Allah SWT menjaga kita, keluarga kita, dan generasi mendatang dari fitnah akhir zaman. Na'udzu billahi min dzalik.

0 Comments
Posting Komentar